Tampilkan postingan dengan label Feature. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Feature. Tampilkan semua postingan

Selasa, 12 Juni 2012

Berdoa Novena Tiga Salam Maria


Novena Tiga Salam Maria berasal dari Santa Mechtildis. Ia mendapatkan pengalaman rohani dari Bunda Maria ketika ia cemas akan keselamatan hidupnya dan ia memohon Bunda Maria untuk membantunya saat kematiannya. Bunda Maria mengabulkan permohonannya dan meminta ia agar berdoa tiga kali Salam Maria.
Santo Antonius dari Padua, Santo Leonardus dari Porto Mauritio dan Santo Alfonsus de Liguori berjasa besar dalam mewartakan doa Tiga Salam Maria ini.
Doakanlah doa ini selama sembilan hari berturut-turut.
Dan jika permohonan anda berat, lakukanlah novena ini 3x berturut-turut.

Novena Tiga Salam Maria

Bunda Maria, Perawan yang berkuasa, bagimu tidak ada sesuatu yang tak mungkin, karena kuasa yang dianugerahkan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa kepadamu. Dengan sangat aku mohon pertolonganmu dalam kesulitanku ini, janganlah hendaknya engkau meninggalkan aku, sebab aku yakin engkau pasti dapat menolong, meski dalam perkara yang sulit, yang sudah tidak ada harapannya, engkau tetap menjadi pengantara bagi Puteramu.
Baik keluhuran Tuhan dan penghormatanku kepadamu maupun keselamatan jiwaku akan bertambah seandainya engkau sudi mengabulkan segala permohonanku ini. Karenanya, kalau permohonanku ini benar-benar selaras dengan kehendak Puteramu, dengan sangat aku mohon, o Bunda, sudilah meneruskan segala permohonanku ini ke hadirat Puteramu, yang pasti tak akan menolakmu.
Pengharapanku yang besar ini, berdasarkan atas kuasa yang tak terbatas yang dianugerahkan oleh Allah Bapa kepadamu. Dan untuk menghormati besarnya kuasamu itu, aku berdoa bersama dengan St.Mechtildis yang kau beritahukan tentang kebaikan doa "Tiga Salam Maria", yang sangat besar manfaatnya itu.

Salam Maria ... (3X)Bunda Maria yang baik hati, jauhkanlah aku dari dosa-dosa berat.
Perawan Suci yang disebut Tahta Kebijaksanaan, karena Sabda Allah tinggal padamu, engkau dianugerahi pengetahuan Ilahi yang tak terhingga oleh Puteramu, sebagai makhluk yang paling sempurna untuk dapat menerimanya.
Engkau tahu betapa besar kesulitan yang kuhadapin ini, betapa besar pengharapanku akan pertolonganmu. Dengan penuh kepercayaan akan tingginya kebijaksanaanmu, aku menyerahkan diriku seutuhnya kepadamu, supaya engkau dapat mengatur dengan segala kesanggupan dan kebaikan budi, demi keluhuran Tuhan dan keselamatan jiwaku. Sudilah kiranya Bunda dapat menolong dengan segala cara yang paling tepat untuk terkabulnya permohonanku ini.
Bunda Maria, Bunda Kebijaksanaan Ilahi, sudilah kiranya Bunda berkenan mengabulkan permohonanku yang mendesak ini. Aku memohon berdasarkan atas kebijaksanaanmu yang tiada bandingnya, yang dikaruniakan oleh Puteramu melalui Sabda Ilahi kepadamu.
Bersama dengan St. Antonius dari Padua dan St. Leonardus dari Porto Mauritio, yang rajin mewartakan tentang devosi"Tiga Salam Maria" aku berdoa untuk menghormati kebijaksanaanmu yang tiada taranya itu

Salam Maria ... (3X)Bunda Maria yang baik hati, jauhkanlah aku dari dosa-dosa berat.
Bunda yang baik dan lembut hati, Bunda Kerahiman Sejati yang akhir-akhir ini disebut sebagai "Bunda yang penuh belas kasih", aku datang padamu, memohon dengan sangat, sudilah kiranya Bunda memperlihatkan belas kasihmu kepadaku. Makin besar kepapaanku, makin besar pula belas kasihmu kepadaku. Aku tahu, bahwa aku tidak pantas mendapat karunia itu. Sebab seringkali aku menyedihkan hatimu dengan menghina Puteramu yang kudus itu. Betapapun besarnya kesalahanku, namun aku sangat menyesal telah melukai Hati Kudus Yesus dan hatikudusmu.
Engkau memperkenalkan diri sebagai "Bunda para pendosa yang bertobat" kepada St.Brigitta, maka ampunilah kiranya segala kurang rasa terima kasihku padamu. Ingatlah akan keluhuran Puteramu saja serta kerahiman dan kebaikan hatimu yang terpancar dengan mengabulkan permohonanku ini melalui perantaraan Puteramu.
Bunda Perawan yang penuh kebaikan serta lembut dan manis, belum pernah ada orang yang datang padamu dan memohon pertolongamu engkau biarkan begitu saja. Atas kerahiman dan kebaikanmu, aku berharap dengan sangat, agar aku dianugerahi Roh Kudus. Dan demi keluhuranmu, bersama St. Alfonsus Ligouri, rasul kerahimanmu serta pengajar devosi "Tiga Salam Maria", aku berdoa untuk menghormati kerahimanmu dan kebaikanmu.

Salam Maria ... (3X)Bunda Maria yang baik hati, jauhkanlah aku dari dosa-dosa berat.

Rabu, 09 November 2011

ANGELUS


 Sebagian besar umat Katolik Roma mempunyai kebiasaan untuk mengucapkan serangkaian doa tiga kali dalam sehari. Rangkaian doa tersebut dikenal dengan “Doa Angelus” atau “Doa Malaikat Tuhan” Angelus didaraskan pada jam 6 pagi, jam 12 siang dan jam 6 petang. Nama Angelus diambil dari kata pertama dalam doa tersebut dalam bahasa Latin, artinya “Malaikat”. Beginilah bunyinya: Angelus Domini nuntiavit Mariae atau Malaikat Tuhan menyampaikan kabar kepada Maria.

Doa Angelus mungkin adalah suatu cara bagi umat beriman untuk berdoa bersama seperti dalam Breviary atau Ofisi, yaitu doa yang didoakan oleh para imam dan para anggota komunitas suatu Ordo Religius. Umat yang tidak dapat membaca, dapatmenghafalkan doanya.

Doa Angelus sudah dimulai sejak tahun 1263 oleh Santo Bonaventura dalam Sidang Umum Ordo Fransiskan. Doa ini berkembang dari abad ke abad sampai dengan zaman Paus Yohanes XXII yang memberikan indulgensi kepada orang yang mengucapkan Doa Angelus.

Paus Pius V dalam tahun 1571 memperbaharui dan melengkapi bentuknya seperti yang kita kenal sekarang ini. Pada waktu itu, Doa Angelus diucapkan pada dini hari untuk menghormati kebangkitan Yesus, pada siang hari untuk menghormati sengsara Yesus dan pada senja hari untuk menghormati peristiwa Inkarnasi.

Di Italia, Doa Kemuliaan ditambahkan sesudah setiap Salam Maria untuk menghormati Tritunggal Mahakudus dalam hubungannya dengan Maria.

Paus Yohanes XXIII dalam catatannya tentang lonceng Angelus yang didentangkan pada pada pagi hari menggambarkan, lonceng dini hari merupakan tanda pergantian malam menjadi siang yang gemilang, pada saat itu langit menunduk untuk bertemu dengan bumi.

Paus Paulus VI dalam ensiklik “Marialis Cultus” menulis, “Doa ini sesudah berabad-abad tetap mempertahankan nilainya dan kesegaran aslinya.” Paus Yohanes Paulus II menandaskan bahwa Doa Angelus tak perlu diubah sebab bentuknya sederhana, diangkat dari Injil, dan asal-muasalnya berkaitan dengan doa perdamaian dan misteri Paska.

Banyak keluarga Katolik dengan setia mengucapkan Doa Angelus pagi, siang dan malam hari. Juga di Indonesia, sejak puluhan tahun yang lampau, bila mendengar lonceng Angelus berbunyi, umat langsung meninggalkan segala kesibukannya untuksejenak memanjatkan Doa Angelus. Pada Masa Paskah, Doa Angelus diganti dengan Doa Ratu Surga.

Dalam Doa Angelus, biasanya satu orang akan mengucapkan suatu kalimat dan yang lain memberikan tanggapan. Mengapa kita tidak mulai ikut mendoakannya juga?

Bapa Suci sendiri memimpin umatnya berdoa Angelus setiap hari Minggu siang.

Beginilah doanya:


http://yesaya.indocell.net/0260d0d0.gif  DOA RATU SURGA

Maria diberi kabar oleh malaikat Tuhan, bahwa ia akan mengandung dari Roh Kudus.

Salam Maria, penuh rahmat, Tuhan sertamu. Terpujilah engkau di antara wanita dan terpujilah buah tubuhmu, Yesus. Santa Maria, Bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini sekarang dan pada waktu kami mati. Amin.

Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanmu.

Salam Maria ....

Sabda sudah menjadi daging, dan tinggal di antara kita.

Salam Maria ....

Doakanlah kami, ya Santa Bunda Allah, supaya kami dapat menikmati janji Kristus.

Ya Allah, karena kabar malaikat kami mengetahui bahwa Yesus Kristus Putra-Mu menjadi manusia; curahkanlah rahmat-Mu ke dalam hati kami, supaya karena sengsara dan salib-Nya, kami dibawa kepada kebangkitan yang mulia. Sebab Dialah Tuhan, pengantara kami. Amin.


 http://yesaya.indocell.net/1x1.gifhttp://yesaya.indocell.net/0260d0d0.gif  DOA RATU SURGA (dalam Masa Paskah)

Ratu Surga bersukacitalah, alleluya,
sebab Ia yang sudi kau kandung, alleluya,
telah bangkit seperti disabdakan-Nya, alleluya!
Doakanlah kami pada Allah, alleluya!
Bersukacita dan bergembiralah, Perawan Maria, alleluya,
sebab Tuhan sungguh telah bangkit, Alleluya!

Ya Allah, Engkau telah menggembirakan dunia dengan kebangkitan PutraMu, Tuhan kami Yesus Kristus. Kami mohon, perkenankanlah kami bersukacita dalam kehidupan kekal bersama BundaNya, Perawan Maria. Demi Kristus, pengantara kami. Amin.

disarikan dan diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya

Selasa, 11 Oktober 2011

Sekuntum Mawar Bagi Yesus : St. Theresia dari Lisieux

PENGANTAR
Bunga selalu dapat membuat seseorang yang memberi, menerima, atau memiliknya merasa istimewa. Seperti halnya jika seorang pemuda yang jatuh cinta dengan seorang gadis maka untuk menarik hati sang gadis pujaannya, dia akan datang membawa rangkaian bunga yang indah untuk dipersembahkan kepada pujaan hatinya. Hal yang romantis itu pun meluluhkan hati sang gadis yang merasa menjadi seseorang yang istimewa. Sang pemuda dengan ketulusan hati mempersembahkan bunga sebagai tanda cintanya. Dan biasanya bunga yang seringkali dipakai sebagai lambang ungkapan cinta itu adalah bunga mawar. Mawar merah yang ingin mengungkapkan seluruh isi hati yang penuh cinta.
Mengapa bunga mawar? Apakah ada kaitannya mawar ini dengan cinta? Begitu banyak bunga yang lain, namun orang lebih senang memilih bunga mawar sebagai persembahan bagi orang yang dicintai. Bunga mawar seakan-akan mampu menggambarkan seluruh isi hati seseorang tanpa harus banyak berkata-kata. Bunga mawar menjadi sangat indah saat dipersembahkan dengan penuh cinta dan ketulusan.


Bunga mawar, bunga yang berduri
Jikalau suatu kali kita perhatikan dengan seksama, di balik keindahan dan keharuman bunga mawar ini, ada sesuatu yang sebetulnya dapat menimbulkan luka dan sakit, yaitu duri-durinya yang tajam. Seandainya saja kita tidak hati-hati memetik bunga mawar itu maka kemungkinan terkena durinya yang tajam akan membuat tangan atau jari-jari kita terluka.
Mawar adalah bunga yang indah, bunga yang dapat membawa suasana menjadi begitu romantis, namun dia juga dapat melukai seseorang dengan duri-durinya. Aneh memang, sesuatu yang begitu indah dan menimbulkan rasa kagum ketika melihatnya, tetapi di lain pihak juga dapat menimbulkan kesulitan.
Kalau kita mendengar kata “mawar” atau melihat bunga mawar, mungkin di antara kita akan dibawa untuk mengingat seorang gadis muda yang sangat indentik dengan mawar-mawar ini, khususnya mawar berduri ini. Gadis muda yang hanya sebentar saja menikmati hidup di dunia ini karena Yesus lebih rindu untuk membawanya hidup bersatu dengan Dia di surga. Gadis ini tidak lain adalah St. Theresia dari Lisieux yang hidup sebagai seorang suster Karmel dan meninggal dalam usia yang masih sangat muda, sekitar 24 tahun. Theresia inilah yang selama hidupnya seakan-akan identik dengan persembahan bunga mawar indah nan berduri ini. Theresia menyenangi bunga mawar dan dia selalu mempersembahkan mawar indah demi cintanya yang tulus kepada kekasih hatinya. Walaupun berduri, namun baginya mawar itu tetaplah indah dan membawanya untuk semakin mendekat kepada pujaan hatinya, kepada Yesus kekasihnya.

Theresia dan sekuntum mawar
Selama masa hidupnya, begitu banyak peristiwa yang dialami oleh Theresia, baik suka maupun duka. Semua peristiwa itu dilaluinya dengan tulus hati dan cinta kepada Sang Kekasih. Dalam setiap peristiwa yang tidak menyenangkan bagi Theresia itulah saat ketika dia dapat mempersembahkan setangkai mawar harum bagi Kekasih yang teramat dicintainya. Kekasih Theresia ini memang bukan kekasih biasa, namun Dialah Yesus Sang Kekasih Ilahi. Theresia setiap saat berusaha memetik bunga mawar yang indah dan harum untuk dipersembahkan sebagai ungkapan cintanya yang tulus kepada Yesus Sang kekasihnya.
Bunga mawar ini bagi Theresia adalah suatu persembahan yang amat berharga. Saat dia mengalami kesedihan dan kekeringan, dia pun mempersembahkan semua itu sebagai mawar indah bagi Yesus. Terlebih saat-saat dibutuhkan penyengkalan diri, inilah gambaran dari duri-duri yang ada pada tangkai mawar tadi. Mawar yang indah namun berduri, itulah yang ada pada diri Theresia.
Selama hidupnya di biara, begitu banyak mawar yang dikumpulkannya dan dipersembahkannya kepada Yesus, sehingga itulah yang membawanya mencapai tingkat kekudusan yang tinggi. Theresia menjadi kudus bukan melalui jalan yang hebat dan hal-hal yang spektakuler, namun kekudusan Theresia dicapainya melalui jalan sederhana yang ternyata lumayan sulit untuk dilalui. Di sepanjang jalan kecil itulah Theresia mengumpulkan bunga-bunga mawar, memetiknya sekuntum demi sekuntum sampai akhirnya menjadi setumpuk mawar yang dipersembahkan kepada Yesus.

Mawar tanda cinta melalui kurban-kurban
Ketika hidupnya di biara, Theresia banyak mengalami pergolakan batin. Saat ada suster lain yang menjengkelkan ia harus tetap menerima suster itu dengan kasih yang tulus. Di sini Theresia dituntut untuk melakukan tindakan penyangkalan diri, apa yang sebetulnya tidak sesuai dengan hatinya, membuatnya jengkel, namun dengan kesadaran penuh bahwa Yesus hadir di dalam pribadi orang yang menjengkelkan itu Theresia mampu mempersembahkan sekuntum mawar dengan mengasihi suster tersebut. Sekuntum mawar telah dipetiknya untuk dipersembahkan bagi Yesus terkasih.
Theresia sangat bersemangat untuk menyenangkan hati Yesus. Dengan mawar-mawar yang dikumpulkannya itu ia ingin membuat hati Yesus senang dan membuat Yesus dapat tersenyum manis padanya. Walaupun seringkali duri-duri mawar itu menusuk kulitnya, melukai hatinya, namun Theresia tidak mengeluh atau sampai membuang mawar-mawar tadi. Theresia menyadari bahwa ketika ia memilih untuk mempersembahkan mawar bagi Yesus, ia tahu bahwa yang dipesembahkan itu bukan mawar yang mulus tanpa duri, namun justru mawar yang berduri banyak. Mawar seperti inilah yang akan membuatnya cepat mencapai kekudusan itu.
Mawar ini bagi Theresia mau mengungkapkan cintanya yang besar kepada Yesus, dengan perbuatan-perbuatan yang dipersembahakan sebagai kurban cintanya. Suatu saat Theresia pernah berkata demikian, “Bagaimana saya harus membuktikan cintaku kepada-Nya? Sebab cinta itu dibuktikan melalui perbuatan-perbuatan. Maka anak kecil itu akan menaburkan bunga-bunga. Ya Kekasihku, demikianlah hidupku yang pendek ini akan melebur di hadapan-Mu. Saya tidak mempunyai sarana lain kecuali menaburkan kuntum-kuntum bunga. Setiap kali saya menemukan sekuntum bunga, saya akan mengambilnya dan menguraikannya bagi-Mu. Kemudian saya akan selalu menyanyi dan menyanyi.” Theresia mengungkapkan hal itu sebagai suatu pernyataannya bahwa ia sungguh-sungguh ingin mencintai Yesus dengan segenap hatinya. Dan lebih lagi Theresia kemudian menyadari suatu hal yang amat penting sampai kemudian ia mengatakan, “Tetapi Yesus untuk apakah semua bunga-bungaku itu? Untuk apa semua nyanyian itu? Oh, saya tahu. Bunga-bunga yang rapuh dan tidak berguna itu, nyanyian cinta kasih yang keluar dari hati yang kecil ini, akan menyentuh hati-Mu. Juga perbuatan-perbuatan kecil itu. Perbuatan-perbuatan kecil itu akan membuat Gereja yang jaya tersenyum. Ketika Gereja yang jaya atau para kudus di surga mau bermain-main dengan anak kecil itu dan ikut mengumpulkan mawar-mawar yang sudah diuraikan dan meletakkannya pada tangan ilahi-Mu, surga akan memberikan nilai yang tidak terbatas kepada bunga-bunga tadi dan melemparkannya kepada Gereja yang menderita untuk memadamkan nyala apinya dan melemparkannya kepada Gereja yang sedang berjuang untuk memberikan kemenangan kepadanya.”
Theresia menyadari keterbatasan dirinya, ia hanyalah seorang anak kecil yang bermain dengan bunga-bunga mawar itu. Hal-hal kecil yang dilakukannya dengan penuh cinta menjadi persembahan mawar bagi Yesus. Dan ketika mawar itu dipersembahkan, dikumpulkan sekuntum demi sekuntum dan diuraikan menjadi suatu rangakaian bunga mawar yang indah maka mawar-mawar tadi kembali dihujankan oleh Tuhan dari surga kepada setiap jiwa yang menderita. Kurban cinta, bunga mawar yang dipersembahkan oleh Theresia menjadi sebuah kurban bagi orang lain dan juga bagi keselamatan jiwa-jiwa yang merana dalam api penyucian. Theresia sangat menyadari hal itu dan ia tak pernah henti untuk terus mencari mawar, memetiknya, dan mengumpulkannya untuk kemudian dipersembahkannya sebagai kurban kecil penuh cinta bagi Yesus dan sesamanya.

Memetik sekuntum mawar
Melihat teladan hidup Theresia dari Lisieux ini membuat kita mungkin berpikir apakah mungkin selama hidupnya ia tidak pernah jengkel dan mengeluh saat penderitaan datang. Ya sebagai manusia biasa Theresia juga mengalami dalam hatinya gejolak-gejolak emosi itu. Justru di sinilah seninya dan indahnya; saat gejolak itu datang, saat itulah sekuntum mawar siap dipetik. Inilah juga yang membedakan kita dengan Theresia. Kalau kita mungkin saat gejolak emosi atau kesedihan, kekecewaan, dan segala perasaan negatif muncul akibat suatu hal maka seringkali kita tidak sempat melihat sekuntum mawar yang ada di hadapan, apalagi terlintas di pikiran untuk memetiknya. Akan tetapi, Theresia berbuat yang lain, ia segera tahu bahwa itulah saat rahmat, saat dia dapat memetik sekuntum mawar dan mempersembahkannya bersama mawar-mawar yang lain.
Memetik sekuntum mawar dan mempersembahkan bagi Yesus merupakan suatu hal yang terkadang mudah, namun juga sulit. Namun, kita bisa belajar perlahan-lahan, dengan membiasakan diri untuk peka terhadap bimbingan Roh Kudus. Selain itu juga dengan memupuk cinta kita akan Yesus. Dengan cinta yang ada di dalam diri kita maka akan ada suatu dorongan juga untuk menyenangkan hati Dia yang kita cinta. Seperti sang kekasih yang membawa bunga mawar untuk pujaan hatinya demi menyenangkannya, demikian juga diri kita dengan Yesus. Dengan membawa persembahan mawar berduri yang indah, kita akan menyenangkan hati Yesus. Dengan melalui kurban-kurban kecil setiap hari maka mawar-mawar kita akan semakin bertumpuk dan pada akhirnya nanti semua mawar itu akan kembali dilemparkan ke bumi ini.
Memetik sekuntum mawar bagi Yesus amat berharga dan membangkitkan semangat cinta dalam diri kita. Seperti Theresia yang memungut sebatang jarum demi cinta kepada Yesus, hal itu juga merupakan persembahan mawar indah bagi Yesus. Hal-hal kecil dalam kehidupan kita sehari-hari dapat menjadi kuntum mawar yang indah dan siap dipersembahkan. Menemukan hal-hal sederhana yang menuntut penyangkalan diri, janganlah menghindar, namun justru ambillah kesempatan itu, petiklah kuntum mawar yang berkembang itu. Hal-hal yang kecil dan sederhana akan menjadi hal yang besar saat cinta semakin diteguhkan dan mawar kita akan menyebarkan semerbak harum mewangi. Memetik bunga mawar, mempersembahkan cinta kepada Yesus Sang Kekasih Ilahi. Mari kita bersama-sama belajar untuk berani memetik kuntum mawar dan mempersembahkannya bagi Yesus.

Artikel oleh: Sr. Maria Rafaella
[carmelia.net]

Jumat, 07 Oktober 2011

Mengapa orang Katolik (sangat) menghormati Bunda Maria?

Sahabat Bee,
Sungguh bahagia rasanya memiliki seorang bunda yang selalu menyayangi dan mendoakan kita, Bunda Maria.

Tahun lalu, saya  ditanya oleh seorang teman yang kristen. "Kenapa sih, orang katolik sangat menghormati Maria? (mungkin dia tidak pakai kata "Menyembah" lagi, karena sebelumnya kami sudah "berdialog" tentang perbedaan antara "menyembah" dengan "menghormati")"

Kemudian saya balik bertanya: "Emang, orang kristen tidak menghormati Maria ya?"

"Kita siy hormat juga sama Maria, tetapi tidak se_bombastis kalian"

"Maksudnya?" Saya bingung.

"yaa.. saya rasa kalian itu terlalu berlebihan. Ada  doa Rosario, ada Novena, patung Maria dimana-mana, ada Legio dan doa-doa lain yang kalian arahkan ke Maria. Apakah Allah tidak sakit hati? Maria yang bukan siapa-siapa, hanya manusia biasa yang "dipinjam" rahimnya untuk melahirkan Yesus, begitu kalian agung-agungkan!"

"Ya ampun Del.... Gini deh, saya coba jelasin satu-satu.
Yang pertama, orang Katolik tidak pernah mengarahkan Doa kepada Maria. Semua doa itu semuanya berpusat kepada Allah. Doa yang disampaikan kepada Bunda Maria itu adalah permohonan agar bunda Maria sudi membantu kita menyampaikan permohonan-permohonan kita kepada Tuhan. Lihatlah apa yang bisa dilakukan bunda Maria saat Perkawinan di Kana (Yoh 2:1-11). Saat itu, Yesus membuat mujizat yang pertama atas permintaan dari Bunda Maria. Padahal, pada awalnya Yesus sempat berkata: "SaatKu belum tiba". Tapi apa yang terjadi? Keyakinan Bunda telah berhasil membuat Yesus mengadakan mujizatNya yang pertama. Jadi, apa salahnya kita juga melakukan hal yang sama dengan pemilik pesta itu? Meminta Bunda Maria untuk memohonkan 'sesuatu' kepada Yesus. Anak mana yang mau menolak ibunya???

Yang kedua, saya sangat sedih mendengar bahwa kalian menganggap Allah 'meminjam' rahim Bunda Maria. Kita harus tahu, bahwa yang dilakukan bunda Maria saat mengandung dan membesarkan Yesus sama dengan yang dilakukan para ibu pada umumnya. Dia juga capek, kesakitan saat melahirkan, menyusui, memandikan, memberi makan, menina bobokan dan memberikan nilai-nilai kemanusiaan kepada Yesus. Apakah itu bisa disebut "hanya dipinjam"? Bunda Maria sungguh mendapat tugas mulia, karena Allah memang telah mempersiapkannya dan karena Maria sungguh layak untuk tugas itu. Jadi, tidak hanya sekedar "numpang lewat".

Saya mau tanya deh sama Adel" kata saya. "Jika suatu saat nanti Adel punya seorang anak, apa yang Adel rasakan jika melihat anak itu tumbuh dalam pelukan Adel, tapi pada usianya yang ke tiga puluh tiga dia ditangkap, diseret, disiksa, diludahi, dicambuk, dipukuli, dihujat, dianiaya, sampai mati disalibkan DI DEPAN MATA ADEL SENDIRI?"

Adel terkejut dan terdiam.

"Itulah yang dirasakan Bunda Maria, Adeeeelll" lanjut saya. "Kalian boleh bilang, Bunda Maria tidak berarti apa-apa. Dia hanya orang ketiga yang tidak penting dalam karya keselamatan. Tapi, bagi orang katolik, Bunda Maria sungguh pribadi yang spesial. Saat Anaknya dicambuk, hatinya tercambuk. Saat Anaknya diludahi, disiksa, dipukuli, didera,... Bunda Maria juga merasakan sakit yang sama dalam batinnya. Bahkan mungkin lebih sakit daripada apa yang dirasakan oleh Yesus.
Itu sungguh merupakan siksaan batin yang sangat luar biasa. Dan saya tidak bisa bayangkan, bagaimana perasaannya saat memangku tubuh Puteranya yang tidak lagi bernyawa penuh luka.

Adel, Bunda Maria sudah berani mengemban tanggung jawab yang begitu sulit. Tapi dia berusaha melaluinya. Apakah sekarang begitu sulit bagi kita untuk sekedar memberi pujian atas pengorbanannya? Apakah salah jika kami menghormati dia sebagai ibu yang luar biasa?
Tidak Adel. Bahkan Yesus pun tidak akan rela jika kita melupakan jasa Ibu Nya begitu saja."

Adel masih terdiam.

"Jadi, Adel. Semua itu kembali kepada diri kita masing-masing. Tidak salah jika kamu menganggap bahwa apa yang dilakukan Bunda Maria adalah suatu hal yang biasa-biasa saja. Tapi, jangan salahkan orang lain juga kalau mereka memandang dari sisi yang berbeda"

Hari itu, pembicaraan saya dan Adel terputus karena jam kantor sudah mulai, sebelum saya sempat mendengar respon Adel.

Tiga hari kemudian, Adel meminta saya mengajari dia berdoa Rosario.... woooowwww.... ^_^

Sahabat Bee, ini adalah sharing yang benar-benar terjadi. Jika kita mengenal Bunda kita, maka kita akan merasa sangat beruntung memiliki dia.

Perlu sahabat Bee tahu, jawaban saya kepada Adel adalah jawaban seorang awam. Bila ada yang kurang cocok atau ada jawaban yang lebih pas, sahabat bisa berkomentar di bawah postingan ini.

Semoga Bulan Rosario ini menjadi waktu yang tepat bagi kita untuk lebih mengenal Bunda.

^_^

Tuhan memberkati




Minggu, 02 Oktober 2011

Renungan Harian 3 Oktober 2011


Bacaan:
  • Yun. 1:1- 2:1,11;
  • MT Yun. 2:2,3,4,5,8;
  • Luk. 10:25-37
Renungan:
Dari mana datangnya lintah, dari sawah turun ke kali; dari mana datangnya cinta, dari mata turun ke hati... Sebuah pantun lama yang masih sering terdengar. Mengisahkan betapa apa yang dilihat dapat dengan mudah mempengaruhi dan merubah sikap hati. Seperti cinta antara 2 pemuda dan pemudi, bermula dari mata lalu hatipun tergerak, terarah dan terjadilah.

Perumpamaan Orang Samaria yang baik hati ternyata berbicara lain dari pada pantun kita. Ada dua tokoh berpendidikan yang melihat dengan baik, cermat dan tepat tetapi tidak turun ke hati. Ada pagar besar, ada tembok pemisah yang menghalangi ketergerakan hati. Keadaan tak berdaya sesama, kemalangan akibat disamun, luka derita dan darah serta kesekaratan sesama yang dilihat mata tidak dilihat mata hati, atau bahkan dialihkan, dihindarkan, dianggap tidak ada. Mengapa?

Karena orang lebih melihat kebutuhan dan keamanan diri; orang tidak melihat kebutuhan sesama; orang tidak bakal mendapat keuntungan; orang tak mau rugi waktu, tenaga, dana, bakat atau kemampuan. Orang merasa dirinya mulia, hebat, berkelebihan dan merasa direndahkan jika harus menolong yang hina dan malang.(Renungan Harian Mutiara Iman 2011, yayasan Pustaka Nusatama)

Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus: “Dan siapakah sesamaku manusia?” Jawab Yesus: “Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati.

Ucapan Yesus menyentuh nubari, terutama bagi yang telah terbiasa mengartikan sesama sebagai orang yang berkeadaan sama, seperti bersuku sama, berekonomi sama, beragama sama, bertempat tinggal di satu daerah, dan sebagainya. Tanpa sadar pemaknaan itu telah mengkotak-kotak manusia di dunia. Marilah ber “ziarah sosial” dengan melihat setiap orang yang berkeadaan berbeda sebagai sesama kita. (Rm. Ign. Suparno, CM) 

Sabtu, 01 Oktober 2011

Renungan 1 Oktober 2011_ Siapa yang Terbesar Dalam Kerajaan Sorga??_

Sabtu, 1 Oktober 2011
Pekan Biasa XXVI

Pesta Sta. Teresia dr Kanak-Kanak Yesus, PrwPujG. (P);
St. Remigius; St. Romanus dr Italia


Yes 66:10-14c,
Mzm 131:1,2,3,
Mat 18:1-5
Bacaan Injil : Mat. 18:1–5

Pada waktu itu datanglah murid-murid itu kepada Yesus dan bertanya: ”Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga?” Maka Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka lalu berkata: ”Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga. Dan barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku.”


Renungan
Kita tentu tidak terkejut mendengar bagaimana para rasul berdiskusi tentang siapa yang terbesar dalam Kerajaan Allah. Siapakah yang tidak merindukan kemajuan, ketenaran, dan kebesaran? Para rasul jujur dengan pergulatan hati mereka. Yesus menempatkan anak kecil di tengah-tengah para rasul. Dalam masyarakat zaman dahulu, anak kecil sama sekali tidak mempunyai hak, tempat yang layak, dan keistimewaan dalam masyarakat. Mereka hanya memiliki kewajiban untuk mengikuti perintah orang tua. Yesus mau menyampaikan bahwa yang terbesar dalam Kerajaan Surga adalah orang-orang yang lemah lembut dan rendah hati, orang yang tidak sombong dan mencari pujian (bdk. Ams. 29:23).

Pada Pesta Santa Theresia dari Kanak-kanak Yesus—pelindung karya misi—kita diajak untuk merenungkan karya misi kita. Karya misi bukanlah soal kebesaran dan ketenaran, sukses dan kehebatan, melainkan soal kesetiaan dan kerendahan hati. Sebagaimana anak-anak kecil yang diajarkan untuk setia mematuhi perintah orang tua, kita pun diajak untuk setia. Oleh karena itu, inti dari ajaran tentang ”yang terbesar dalam Kerajaan Allah” adalah pertobatan (ay. 3), kesahajaan, dan kerendahan hati.

Doa: Yesus, ajarilah aku kesahajaan dan kerendahan hati dan biarlah cahaya serta terang-Mu bersinar dalam hidupku agar aku tidak disilaukan dengan kebesaran dan kemuliaan yang duniawi dan sementara. Amin.

Sumber : Ziarah batin 2011

Jumat, 30 September 2011

Tentang Keperawanan Bunda Maria, Apakah Selamanya ???

Iman Kristiani tidak meragukan bahwa Yesus menjelma menjadi manusia oleh kuasa Roh Kudus di dalam rahim Maria, tanpa keterlibatan benih dari laki- laki. Lahirnya Kristus dari seorang perawan, menjadi salah satu tanda ke-Allahan Yesus, sebab tidak pernah ada dalam sejarah manusia, seorang manusia lahir dari seorang perawan tanpa campur tangan benih laki- laki. Namun selanjutnya timbul pertanyaan apakah pada saat dan setelah melahirkan Bunda Maria tetap perawan?

Gereja Katolik mengajarkan bahwa Maria tetap perawan, sebelum, pada saat dan sesudah melahirkan Yesus. Walaupun tidak dinyatakan secara eksplisit dalam Kitab Suci, namun hal ini dapat diketahui setidaknya melalui beberapa prinsip ini:



1. Allah menguduskan secara istimewa hal- hal yang berkenaan dengan tempat kediaman-Nya.

Allah menguduskan tabut Perjanjian Lama yang berisikan manna, kedua loh batu dan tongkat imam Harun (lih. Kel 25 s/d 31, Ibr 9:4), terlebih lagi Ia pasti menguduskan Maria, yang adalah tabut Perjanjian yang Baru yang mengandung Yesus Sang Roti Hidup (Yoh 6:35), Firman yang menjadi daging (Yoh 1:14), dan Sang Imam Agung (Ibr 8:1). Kitab Daniel mengisahkan bahwa Allah menghukum mati Raja Belsyazar yang menggunakan perkakas dari bait suci Yerusalem untuk dipakai minum-minum dengan tamu-tamunya (lih. Dan 5); juga Allah menghukum Uza yang menyentuh tabut perjanjian (2 Sam 6:6-7). Di Perjanjian Lama Allah juga melarang hubungan suami istri untuk alasan- alasan tertentu, misalnya para imam dilarang berhubungan dengan istrinya pada masa mereka melayani di bait Allah. Musa juga melarang umat Israel untuk berhubungan dengan istri mereka, pada saat ia naik ke gunung Sinai (Kel 20:15). Maka ada keharusan pantang di sini untuk maksud yang sangat suci.
Selanjutnya, Nabi Yehezkiel juga pernah bernubuat bahwa tak ada seorangpun yang dapat melewati gerbang yang dilalui oleh Tuhan untuk masuk ke dunia (lih. Yeh 44:2). Nubuat ini berkaitan dengan keperawanan Maria yang tetap selamanya, sebab Kristus datang ke dunia melalui rahim Maria sebagai gerbangnya. Dengan demikian, tidak mengherankan jika pada saat Allah memenuhi Maria dengan rahmat-Nya (lih. Luk 1:28) demi perannya sebagai ibu Yesus, Allah telah menguduskan Maria secara istimewa, sehingga Maria dapat mempersembahkan keseluruhan tubuh dan jiwanya secara total untuk Tuhan.
2. Maria telah mempunyai nazar/ kaul untuk tetap perawan seumur hidupnya. Hal ini diketahui dengan tanggapannya ketika menerima kabar gembira, “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku tidak bersuami?” (“I know not man” (menurut Douay Rheims, terjemahan Vulgate- Mat 1:34)). Jika Maria tidak mempunyai kaul keperawanan, ungkapan ini menjadi aneh, karena pada kenyataannya ia sudah bertunangan dengan Yusuf. Istilah “know” dalam Kitab Suci tidak hanya berarti ‘mengetahui’, tetapi dalam konteks suami istri, hal ini mengacu kepada hubungan suami istri, seperti halnya yang terjadi pada Adam dan Hawa: “And Adam knew Eve his wife; who conceived and brought forth Cain, saying: I have gotten a man through God.” (Kej 4:1) “Knew” di sini diterjemahkan oleh LAI dengan kata ‘bersetubuh’. Maka jika Maria mengatakan, “I know not man” artinya adalah ia tidak bersetubuh dengan laki- laki. Perkataan ini hanya masuk akal jika sejak semula Maria telah mempunyai kaul keperawanan, walaupun pada saat itu ia sudah bertunangan dengan Yusuf. Sebab jika Maria tidak mempunyai kaul keperawanan, sesungguhnya tidak ada yang aneh bagi seseorang yang sudah bertunangan menurut adat Yahudi untuk dapat mengandung dan melahirkan anak. Nazar/ kaul semacam ini dimungkinkan, seperti yang tertulis dalam Bil 30.


3. Keperawanan Maria juga melibatkan keperawanan Yusuf suaminya.

Dikatakan bahwa Yusuf adalah ’seorang yang tulus hati’ (Mat 1:19); ia juga adalah seorang yang takut akan Tuhan sehingga ia selalu taat akan kehendak Tuhan yang dinyatakan kepadanya lewat mimpi (lih. Mat 1: 24; 2:14). Maka, St. Jerome (Hieronimus) mengatakan bahwa St. Yusuf tidak akan berani mengganggu keperawanan Maria, karena mengetahui bahwa Roh Kuduslah yang telah menaungi Maria sehingga Kristus sang Putera Allah dapat menjelma menjadi manusia di dalam rahim Maria.
Kata ’sampai’ di Mat 1:25, “Ia mengambil Maria sebagai isterinya, tetapi tidak bersetubuh dengan dia sampai ia melahirkan anaknya laki-laki …,” tidak berarti bahwa setelah Maria melahirkan, maka Yusuf bersetubuh dengannya. Sebab kata ‘heos‘/ ’sampai’ dalam bahasa Yunani tidak selalu mensyaratkan adanya perubahan kondisi setelah sesuatu terjadi. Hal ini terlihat di banyak ayat Kitab Suci, seperti pada Mat 28: 19-20, Yesus menyertai para murid sampai akhir jaman, namun tidak berarti bahwa setelah akhir jaman Yesus tak menyertai para murid-Nya. Demikian pula dengan ayat- ayat lainnya: Luk 1:80, Luk 20:43, 1 Kor 15:25, 1 Tim 4:13, 2 Sam 6:23.

4. Keperawanan Maria inilah yang semakin menunjukkan ke-Allahan Yesus.

Adalah tidak mungkin, menurut St. Agustinus, bahwa Yesus yang datang dengan maksud untuk memulihkan manusia dari kerusakan dosa, dan melenyapkan segala penyakit dan kelemahan (Mat 4:23) malahan merusak keutuhan ibu-Nya sendiri pada saat kedatangan-Nya (St. Agustinus, Serm. 189, n.2; PL 38, 1005). Maka kedatangan Kristus ke dunia tidak mengganggu keperawanan ibu-Nya sama seperti ketika kebangkitan-Nya, Yesus juga tidak merusak pintu- pintu yang terkunci (Lih. Yoh 20:26, St. Augustine, Letters no. 137)

5. Fakta dalam Injil menyatakan bahwa tidak mungkin Maria mempunyai anak- anak lain selain Yesus.

Pada saat Yesus hilang di bait Allah (Luk 2:41-51) tidak dikisahkan adanya ‘adik- adik’ Yesus. Sebab jika Yesus mempunyai adik- adik, maka kepada merekalah mestinya Yesus mempercayakan ibu-Nya sebelum wafat-Nya, dan bukan kepada Yohanes rasul-Nya (lih. Yoh 19:26-27).

Dasar Kitab Suci

  • Luk 1:34: “I know not man” (Douay Rheims, terjemahan Vulgate)/ “aku tidak bersuami”.
  • Yeh 44:2: Pintu yang dilewati Tuhan tidak dapat dilewati oleh orang lain.
  • Bil 30: Nazar seorang perempuan (termasuk untuk menjaga keperawanan).
  • Luk 2:41-51: Pada saat Yesus hilang di bait Allah tidak dikisahkan adanya ‘adik- adik’ Yesus
  • Yoh 19:26-27: Sebelum wafat-Nya, Yesus mempercayakan Maria ibu-Nya kepada rasul Yohanes, karena Ia tidak mempunyai adik- adik/ saudara kandung.

Dasar Tradisi Suci

  • St. Hippolytus (235): “Ia adalah tabut yang dibentuk dari kayu yang tidak dapat rusak. Sebab dengan ini ditandai bahwa Tabernakel-Nya dibebaskan dari kebusukan dan kerusakan.” (St. Hippolytus, Orations Inillud, Dominus pascit me)
  • Origen (244): “Bunda Perawan dari Putera Tunggal Allah ini disebut sebagai Maria, yang layak bagi Tuhan, yang tidak bernoda dari yang tidak bernoda, hanya satu- satunya.” (Origen, Homily 1)
  • Tertullian (213), “Dan sungguh, ada seorang perawan… yang melahirkan Kristus, supaya semua gelar kekudusan dapat dipenuhi di dalam diri orang tua Kristus, melalui seorang ibu yang adalah perawan dan istri dari satu orang suami.” (Tertullian, On Monogamy, 8).
  • St. Athanasius (293-373) menyebutkan Maria sebagai Perawan selamanya/ Ever Virgin. (St. Athanasius, Discourses Against the Arians, 2, 70, Jurgens, Vol.1, n. 767a).
  • St. Epifanus (374): Allah Putera …. telah lahir sempurna dari Maria yang suci dan tetap Perawan oleh Roh Kudus….” (St. Epiphanus, Well Anchored Man, 120).
  • St. Jerome (347- 420) tidak hanya menyebutkan keperawanan Maria, tetapi juga keperawanan Yusuf (lih. St. Jerome, The Perpetual Virginity of Blessed Mary, Chap 21).
  • St. Agustinus dan St. Ambrosius (415), mengajarkan keperawanan Maria sebelum, pada saat dan sesudah melahirkan Yesus Kristus, sehingga Maria adalah perawan selamanya (Lih. St. Augustine, Sermons, 186, Heresies, 56; Jurgens, vol.3, n. 1518 dan 1974d).
“Dengan kuasa Roh Kudus yang sama, Yesus lahir tanpa merusak keperawanan Bunda Maria, seperti halnya setelah kebangkitan-Nya, Dia dapat datang ke dalam ruang tempat para murid-Nya berdoa, tanpa merusak semua pintu yang terkunci (Lih. Yoh 20:26).” (St. Augustine, Letters no. 137)
Selanjutnya, St. Agustinus mengajarkan, “It is not right that He who came to heal corruption should by His advent violate integrity.” (Adalah tidak mungkin bahwa Ia yang datang untuk menyembuhkan korupsi/kerusakan, malah merusak keutuhan pada awal kedatangan-Nya.” (St. Agustinus, Serm. 189, n.2; PL 38, 1005)
St. Agustinus mengartikan ayat yang disampaikan oleh Bunda Maria, “karena aku tidak bersuami (I know not man)” (Luk 1:34) (Douay Rheims Bible) adalah suatu ungkapan kaul Bunda Maria untuk hidup selibat sepanjang hidupnya.
  • St. Petrus Kristologus (406- 450): “Sang Perawan mengandung, Sang Perawan melahirkan anaknya, dan ia tetap perawan” (St. Petrus Kristologus, Sermon 117).
  • Paus St. Leo Agung (440-461) :“a Virgin conceived, a Virgin bare and a Virgin she remained.- [Ia adalah seorang Perawan yang mengandung, Perawan melahirkan, dan ia tetap Perawan.” (Paus St. Leo Agung, On the Feast of the Nativity, Sermon 22:2).
  • St. Yohanes Damaskinus (676- 749) juga mengatakan hal yang serupa: "Ia yang tetap Perawan, bahkan tetap perawan setelah kelahiran [Kristus] tak pernah sampai akhir hidupnya berhubungan dengan seorang pria… Sebab meskipun dikatakan Ia [Kristus] sebagai yang ’sulung’…. arti kata ’sulung’ adalah ia yang lahir pertama kali, dan tidak menunjuk kepada kelahiran anak- anak berikutnya.” (St. Yohanes Damaskinus, Orthodox Faith, 4:14 ).

Dasar Magisterium Gereja

  • Maria adalah Perawan, sebelum pada saat dan sesudah kelahiran Yesus Kristus (De fide).
Konsili Konstantinopel II (553) menyebutkan Bunda Maria sebagai, “kudus, mulia, dan tetap-Perawan Maria”.
  • Sinode Lateran (649) di bawah Paus Martin I mengatakan:
“Ia [Maria] mengandung tanpa benih laki-laki, [melainkan] dari Roh Kudus, melahirkan tanpa merusak keperawanannya, dan keperawanannya tetap tidak terganggu setelah melahirkan.” (D256)
Keperawanan Maria termasuk 1) keperawanan hati, 2) kemerdekaan dari hasrat seksual yang tak teratur dan 3) integritas fisik. Namun doktrin Gereja secara prinsip mengacu kepada keperawanan tubuh/ fisik Maria. (lih. Dr. Ludwig Ott, Fundamentals of Catholic Dogma, Ibid., p.204)
  • Maria mengandung dari Roh Kudus, tanpa campur tangan manusia (De fide)
Ini sesuai dengan kabar gembira yang disampaikan oleh malaikat Gabriel (lih. Luk 1: 35). Maria mengandung dari Roh Kudus dinyatakan dalam Syahadat Aku Percaya, “Qui conceptus est de Spiritu Sancto.” (D 86, 256,993)
  • Maria melahirkan Putera-Nya tanpa merusak keperawanannya (De fide)
Keperawanan Maria pada saat melahirkan Yesus termasuk dalam gelar, “tetap perawan” yang diberikan kepada Maria oleh Konsili Konstantinopel (553) (D214, 218, 227). Doktrin ini diajarkan oleh Paus Leo I dalam Epistola Dogmatica ad Flavianum (Ep 28,2), disetujui oleh Konsili Kalsedon, dan diajarkan dalam Sinode Lateran (649). Prinsipnya adalah ajaran dari St. Agustinus (Enchiridion 34) yang mengajarkan dengan analogi- Yesus keluar dari kubur tanpa merusaknya, Ia masuk ke dalam ruangan terkunci tanpa membukanya, menembusnya sinar matahari dari gelas, lahirnya Sabda dari pangkuan Allah Bapa, keluarnya pikiran manusia dari jiwanya.
  • Setelah melahirkan Yesus, Maria tetap perawan (De fide).
Konsili Konstantinopel (553) dan Sinode Lateran menyebutkan gelar “tetap perawan”(D 214, 218, 227). St. Agustinus dan para Bapa Gereja mengartikan ayat yang disampaikan oleh Bunda Maria, “karena aku tidak bersuami (I know not man)” (Luk 1:34) (Douay Rheims Bible) adalah suatu ungkapan kaul Bunda Maria untuk hidup selibat sepanjang hidupnya.
  • Maria adalah Bunda dan Perawan:
Konsili Vatikan II mengajarkan: “Seperti telah diajarkan oleh St. Ambrosius, Bunda Allah itu pola Gereja, yakni dalam hal iman, cinta kasih dan persatuan sempurna dengan Kristus. Sebab dalam misteri Gereja, yang tepat juga disebut Bunda dan perawan, Santa Perawan Maria mempunyai tempat utama, serta secara ulung dan istimewa memberi teladan perawan maupun ibu.” (Lumen Gentium 63)
  • Katekismus Gereja Katolik:
KGK 499 Pengertian imannya yang lebih dalam tentang keibuan Maria yang perawan, menghantar Gereja kepada pengakuan bahwa Maria dengan sesungguhnya tetap perawan (Bdk. DS 427), juga pada waktu kelahiran Putera Allah yang menjadi manusia (Bdk. DS 291; 294, 442; 503; 571; 1880). Oleh kelahiran-Nya “Puteranya tidak mengurangi keutuhan keperawanannya, melainkan justru menyucikannya” (LG 57). Liturgi Gereja menghormati Maria sebagai “yang selalu perawan” [Aeiparthenos] (Bdk. LG 52).

KGK 500 Kadang-kadang orang mengajukan keberatan bahwa di dalam Kitab Suci dibicarakan tentang saudara dan saudari Yesus (Bdk. Mrk 3:31-35; 6:3; 1 Kor 9:5; Gal 1:19). Gereja selalu menafsirkan teks-teks itu dalam arti, bahwa mereka bukanlah anak-anak lain dari Perawan Maria. Yakobus, dan Yosef yang disebut sebagai “saudara-saudara Yesus” (Mat 13:55), merupakan anak-anak seorang Maria yang lain (Bdk. Mat 27:56) yang adalah murid Yesus dan yang dinamakan “Maria yang lain” (Mat 28:1). Sesuai dengan cara ungkapan yang dikenal dalam Perjanjian Lama (Bdk. misalnya Kej 13:8; 14:16; 29:15), mereka itu sanak saudara Yesus yang dekat.

KGK 501 Yesus adalah putera Maria yang tunggal. Tetapi keibuan Maria yang rohani (Bdk. Yoh 19:26-27; Why 12:17). mencakup semua manusia, untuknya Yesus telah datang untuk menyelamatkannya: “Ia telah melahirkan putera, yang oleh Allah dijadikan ‘yang sulung di antara banyak saudara’ (Rm 8:29), yakni umat beriman. Maria bekerja sama dengan cinta kasih keibuannya untuk melahirkan dan mendidik mereka” (LG 63).

Pengajaran dari para pemimpin gereja Protestan tentang keperawanan Maria

  • Martin Luther:
“Adalah artikel iman bahwa Maria adalah Bunda Tuhan dan tetap Perawan.” (Martin Luther, Weimar edition of Martin Luther’s Works (translation by William J. Cole), vol 11, 319-320)
“Setelah Maria “mengetahui bahwa ia adalah Bunda dari Allah Putera, ia tidak ingin untuk menjadi ibu dari anak manusia, tetapi ia tetap di dalam rahmat karunia itu.” (Martin Luther, Ibid., p. 320)
“Tidak diragukan lagi, tidak ada seorangpun yang begitu berkuasa yang, menggantungkan pada pemikirannya sendiri, tanpa Kitab Suci, akan beranggapan bahwa ia [Maria] tidak tetap perawan.” (Martin Luther, Ibid., p. 320)
  • John Calvin:
“Helvidius telah menunjukkan dirinya sendiri sebagai seorang yang bebal, dengan mengatakan bahwa Maria mempunyai banyak anak- anak, sebab ada disebutkan dalam beberapa perikop tentang saudara- saudara Kristus.” (Bernard Leeming, “Protestants and Our Lady”, Marian Library Studies, January 1967, p.9) Dengan demikian Calvin sendiri mengartikan “saudara- saudara” ini artinya saudara sepupu atau saudara bukan saudara kandung (relatives).
  • Zwingli:
“Saya sangat menghargai Bunda Allah, Sang Perawan Maria yang tidak bernoda dan tetap perawan.” (E. Stakemeier, De Mariologia et Oecumenismo, K. Balic, ed. (Rome, 1962), 456).
“Kristus… dilahirkan dari Perawan yang paling tidak bernoda.” (Ibid.)
“Adalah layak bahwa Sang Anak yang kudus harus mempunyai seorang Bunda yang kudus.” (Ibid.)



[katolisitas.org]

Senin, 05 September 2011

Friendship

One day, when I was a freshman in high school, I saw a kid from my class was walking home from school. His name was Kyle. It looked like he was carrying all of his books. I thought to myself, “Why would anyone bring home all his books on a Friday? He must really be a nerd.”

I had quite a weekend planned (parties and a football game with my friends tomorrow afternoon), so I shrugged my shoulders and went on. As I was walking, I saw a bunch of kids running toward him. They ran at him, knocking all his books out of his arms and tripping him so he landed in the dirt. His glasses went flying, and I saw them land in the grass about ten feet from him. He looked up and I saw this terrible sadness in his eyes. My heart went out to him. So, I jogged over to him as he crawled around looking for his glasses, and I saw a tear in his eye.

As I handed him his glasses, I said, “Those guys are jerks. They really should get lives.” He looked at me and said, “Hey thanks!” There was a big smile on his face. It was one of those smiles that showed real gratitude. I helped him pick up his books, and asked him where he lived.

As it turned out, he lived near me, so I asked him why I had never seen him before. He said he had gone to private school before now. I would have never hung out with a private school kid before.
We talked all the way home, and I carried some of his books. He turned out to be a pretty cool kid. I asked him if he wanted to play a little football with my friends. He said “yes.”

We hung out all weekend and the more I got to know Kyle, the more I liked him, and my friends thought the same of him.

Monday morning came! , and there was Kyle with the huge stack of books again. I stopped him and said, “Boy, you are gonna really build some serious muscles with this pile of books everyday!” He just laughed and handed me half the books. Over the next four years, Kyle and I became best friends. When we were seniors, we began to think about college. Kyle decided on Georgetown , and I was going to Duke.

I knew that we would always be friends, that the miles would never be a problem. He was going to be a doctor, and I was going for business on a football scholarship. Kyle was valedictorian of our class. I teased him all the time about being a nerd.

He had to prepare a speech for graduation. I was so glad it wasn’t me having to get up there and speak. Graduation day, I saw Kyle. He looked great. He was one of those guys that really found himself during high school. He filled out and actually looked good in glasses. He had more dates than I had and all the girls loved him. Boy, sometimes I was jealous! Today was one of those days. I could see that he was nervous about his speech. So, I smacked him on the back and said, “Hey, big you’ll be great!” He looked at me with one of those looks (the really grateful one) and smiled. “Thanks,” he said.

As he started his speech, he cleared his throat, and began, “Graduation is a time to thank those who helped you make it through those tough years. Your parents, your teachers, your siblings, maybe a coach…but mostly your friends… I am here to tell all of you that being a friend to someone is the best gift you can give them. I am going to tell you a story.”I just looked at my friend with disbelief as he told the story of the first day we met.

He had planned to kill himself over the weekend. He talked of how he had cleaned out his locker so his Mom wouldn’t have to do it later and was carrying his stuff home. He looked hard at me and gave me a little smile. “Thankfully, I was saved. My friend saved me from doing the unspeakable.”
I heard the gasp go through the crowd as this handsome, popular boy told us all about his weakest moment. I saw his Mom and dad looking at me and smiling that same grateful smile. Not until that moment did I realize it’s depth.

Never under estimate the power of your actions. With one small gesture you can change a person’s life. For better or for worse.

God puts us all in each others lives to impact one another in some way.

_yourcaringangels.com_

BUNDA MARIA DIKANDUNG TANPA NODA

Maria, dalam sejarah keselamatan menempati peranan yang penting. Maria, dalam sejarah keselamatan menempati posisi kunci yang menghantarkan Sang Putera untuk menebus manusia. Oleh karena posisinya yang sangat penting itulah mengapa Maria dipersiapkan sejak awal mula untuk mengandung YESUS yang adalah ALLAH.

pada artikel 1 [Maria sebagai Tabut perjanjian, Maria dikandung tanpa Noda dosa (Immaculata) & Maria diangkat ke Surga], sudah dicoba dibahas mengenai Maria dikandung tanpa noda dosa dari kitab suci. pada saat ini kita akan mencoba membahas dari pandangan Bapa-Bapa Gereja perdana mengenai ajaran iman ini.

Para Bapa Gereja menyatakan bahwa Maria ini menerima kepenuhan Rahmat Allah "...engkau yang dikaruniai.." (luk 1:28)

"[Jesus] became man by the Virgin so that the course which was taken by disobedience in the beginning through the agency of the serpent might be also the very course by which it would be put down. Eve, a virgin and undefiled, conceived the word of the serpent and bore disobedience and death. But the Virgin Mary received faith and joy when the angel Gabriel announced to her the glad tidings that the Spirit of the Lord would come upon her and the power of the Most High would overshadow her, for which reason the Holy One being born of her is the Son of God. And she replied `Be it done unto me according to your word' [Luke 1:38]" (Dialogue with Trypho the Jew 100 [A.D. 155], Yustinus Martir).

"And again, lest I depart from my argumentation on the name of Adam: Why is Christ called Adam by the apostle, if as man he was not of that earthly origin? But even reason defends this conclusion, that God recovered his image and likeness by a procedure similar to that in which he had been robbed of it by the devil. It was while Eve was still a virgin that the word of the devil crept in to erect an edifice of death. Likewise through a Virgin the Word of God was introduced to set up a structure of life. Thus what had been laid waste in ruin by this sex was by the same sex re-established in salvation. Eve had believed the serpent; Mary believed Gabriel. That which the one destroyed by believing, the other, by believing, set straight" (The Flesh of Christ 17:4 [A.D. 210], Tertulianus).

"You alone and your Mother are more beautiful than any others, for there is no blemish in you nor any stains upon your Mother. Who of my children can compare in beauty to these?" (Nisibene Hymns 27:8 [A.D. 361], Ephraim the Syrian).

"Come, then, and search out your sheep, not through your servants or hired men, but do it yourself. Lift me up bodily and in the flesh, which is fallen in Adam. Lift me up not from Sara but from Mary, a virgin not only undefiled but a virgin whom grace had made inviolate, free of every stain of sin" (Commentary on Psalm 118 22:30 [A.D. 387], Ambrosius dari Milan).

"That one woman is both mother and virgin, not in spirit only but even in body. In spirit she is mother, not of our head, who is our Savior himself--of whom, even herself, all are rightly called children of the bridegroom--but plainly she is the mother of us who are his members, because by love she has cooperated so that the faithful, who are the members of that head, might be born in the Church. In body, indeed, she is the mother of that very head" (Holy Virginity 6:6 [A.D. 401], Agustinus).

"Having excepted the holy Virgin Mary, concerning whom, on account of the honor of the Lord, I wish to have absolutely no question when treating of sins--for how do we know what abundance of grace for the total overcoming of sin was conferred upon her, who merited to conceive and bear him in whom there was no sin?--so, I say, with the exception of the Virgin, if we could have gathered together all those holy men and women, when they were living here, and had asked them whether they were without sin, what do we suppose would have been their answer?" (Nature and Grace 36:42 [A.D. 415], Agustinus).

"Therefore the Virgin is immortal to this day, seeing that he who had dwelt in her transported her to the regions of her assumption" (Homily on Simeon and Anna [A.D. 400], Timotius dari Yerusalem).

"And to holy Mary, [the title] 'Virgin' is invariably added, for that holy woman remains undefiled." (Medicine Chest Against All Heresies [A.D 375], Epiphanius dari Salamis)

dari kesaksian Bapa-Bapa Gereja tersirat dan tersurat bahwa Maria, memiliki keistimawaan tersendiri. Keistimewaan itu semua didasarkan bahwa sejak awal mula Maria dipersiapkan untuk mengandung Yesus, yang adalah Allah. nah seperti yang kita ketahui bersama bahwa untuk menyimpan sabda Allah orang memerlukan tempat yang terbaik, yang dipersiapkan sedemikan rupa (bdk dengan tabut perjanjian), apalagi dengan Bunda Maria yang akan mengandung Yesus Kristus [untuk penjelasan alkitabiahnya baca artikel 1].

semoga kesaksian Iman Bapa-Bapa Gereja ini membuat kita semakin percaya bahwa Bunda Maria, benar-benar dipersiapkan dari awal mula untuk mengandung Tuhan Kita Yesus Kristus.

Thomas Rudy

Santo Hari Ini, 5 September

 Santo Laurensius Guistiniani, Uskup dan Pengaku Iman

Sejak masa remajanya Laurensius bercita – cita melayani Tuhan. Kesucian hidup sudah menjadi cita – cita yang terus membakar hatinya. Sekali peristiwa ia mendengar suatu suara ajaib berkata: “Ketentraman batin yang engkau dambakan hanya ada di dalam Aku, Tuhanmu.” Suara itu semakin memacu dia untuk lebih dekat pada Tuhan. Sejak itu segala hal duniawi tidak berarti lagi baginya. Tuhanlah satu – satunya yang mengisi relung hatinya. Desakan orangtuanya untuk mengawinkan dia tidak lagi digubrisnya. Satu – satunya pilihan bagi dia adalah mengikuti Kristus yang tersalib. Kepada Yesus, ia berdoa: “Engkaulah ya Tuhan satu – satunya cita – citaku”.
Laurensius masuk biara kanonik dari Santo Joris di Pulau Alga. Disanalah ia hidup lebih dekat dengan Tuhan dengan matiraga, doa dan pekerjaan harian. Hanyalah sekali ia pulang ke kampung halamannya ketika ibunya meninggal dunia. Pekerjaan yang ditugaskan kepadanya ialah mengemis – ngemis makanan di kota untuk seluruh penghuni biara. Tugas ini dilaksanakannya dengan penuh kegembiraan dan kesabaran demi Kristus yang tersalib.
Pada tahun 1406 ia ditabhiskan menjadi imam dan 27 tahun kemudian diangkat menjadi uskup di Kastello. Administrasi keuskupan di percayakan kepada orang lain dengan maksud agar dia dapat mencurahkan seluruh perhatiannya pada pelayanan dan pemeliharaan umatnya. Laurensius yang saleh ini kemudian diangkat menjadi Patrik pertama di Venisia.
Di dalam kebesarannya ia tetap seorang Uskup yang sederhana dan rendah hati. Ia terus menolong orang – orang miskin meskipun hal itu kadang – kadang membuat dia harus berhutang pada orang lain. Ia percaya penuh pada penyelenggaraan ilahi: “Tuhan yang mahaagung yang akan melunaskan utang – utangku.”
Ketika ajalnya mendekat, Laurensius tidak mau berbaring di atas tempat tidur yang empuk. Dia menyuruh pembantu – pembantunya agar membaringkan dia diatas papan yang biasa digunakannya. Ketika ia meninggal dunia, jenazahnya disemayankan selama dua bulan lamanya di dalam kapel biara. Badannya tidak rusak bahkan menyeburkan bau harum yang semerbak bagi setiap pengunjungnya. Laurentius wafat pada tahun 1455.

Sumber: 
[ekaristi.org]

Jumat, 02 September 2011

Novena Tiga Salam Maria

Novena Tiga Salam Maria berasal dari Santa Mechtildis. Ia mendapatkan pengalaman rohani dari Bunda Maria ketika ia cemas akan keselamatan hidupnya dan ia memohon Bunda Maria untuk membantunya saat kematiannya. Bunda Maria mengabulkan permohonannya dan meminta ia agar berdoa tiga kali Salam Maria.
Santo Antonius dari Padua, Santo Leonardus dari Porto Mauritio dan Santo Alfonsus de Liguori berjasa besar dalam mewartakan doa Tiga Salam Maria ini.

Doakanlah doa ini selama sembilan hari berturut-turut.

Dan jika permohonan anda berat, lakukanlah novena ini 3x berturut-turut.

Novena Tiga Salam Maria

Bunda Maria, Perawan yang berkuasa, bagimu tidak ada sesuatu yang tak mungkin, karena kuasa yang dianugerahkan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa kepadamu. Dengan sangat aku mohon pertolonganmu dalam kesulitanku ini, janganlah hendaknya engkau meninggalkan aku, sebab aku yakin engkau pasti dapat menolong, meski dalam perkara yang sulit, yang sudah tidak ada harapannya, engkau tetap menjadi pengantara bagi Puteramu.

Baik keluhuran Tuhan dan penghormatanku kepadamu maupun keselamatan jiwaku akan bertambah seandainya engkau sudi mengabulkan segala permohonanku ini. Karenanya, kalau permohonanku ini benar-benar selaras dengan kehendak Puteramu, dengan sangat aku mohon, o Bunda, sudilah meneruskan segala permohonanku ini ke hadirat Puteramu, yang pasti tak akan menolakmu. 

Pengharapanku yang besar ini, berdasarkan atas kuasa yang tak terbatas yang dianugerahkan oleh Allah Bapa kepadamu. Dan untuk menghormati besarnya kuasamu itu, aku berdoa bersama dengan St.Mechtildis yang kau beritahukan tentang kebaikan doa "Tiga Salam Maria", yang sangat besar manfaatnya itu.
Salam Maria ... (3X)

Bunda Maria yang baik hati, jauhkanlah aku dari dosa-dosa berat.
Perawan Suci yang disebut Tahta Kebijaksanaan, karena Sabda Allah tinggal padamu, engkau dianugerahi pengetahuan Ilahi yang tak terhingga oleh Puteramu, sebagai makhluk yang paling sempurna untuk dapat menerimanya. 

Engkau tahu betapa besar kesulitan yang kuhadapin ini, betapa besar pengharapanku akan pertolonganmu. Dengan penuh kepercayaan akan tingginya kebijaksanaanmu, aku menyerahkan diriku seutuhnya kepadamu, supaya engkau dapat mengatur dengan segala kesanggupan dan kebaikan budi, demi keluhuran Tuhan dan keselamatan jiwaku. Sudilah kiranya Bunda dapat menolong dengan segala cara yang paling tepat untuk terkabulnya permohonanku ini.

Bunda Maria, Bunda Kebijaksanaan Ilahi, sudilah kiranya Bunda berkenan mengabulkan permohonanku yang mendesak ini. Aku memohon berdasarkan atas kebijaksanaanmu yang tiada bandingnya, yang dikaruniakan oleh Puteramu melalui Sabda Ilahi kepadamu.

Bersama dengan St. Antonius dari Padua dan St. Leonardus dari Porto Mauritio, yang rajin mewartakan tentang devosi "Tiga Salam Maria" aku berdoa untuk menghormati kebijaksanaanmu yang tiada taranya itu
Salam Maria ... (3X)

Bunda Maria yang baik hati, jauhkanlah aku dari dosa-dosa berat.

Bunda yang baik dan lembut hati, Bunda Kerahiman Sejati yang akhir-akhir ini disebut sebagai "Bunda yang penuh belas kasih", aku datang padamu, memohon dengan sangat, sudilah kiranya Bunda memperlihatkan belas kasihmu kepadaku. Makin besar kepapaanku, makin besar pula belas kasihmu kepadaku. Aku tahu, bahwa aku tidak pantas mendapat karunia itu. Sebab seringkali aku menyedihkan hatimu dengan menghina Puteramu yang kudus itu. Betapapun besarnya kesalahanku, namun aku sangat menyesal telah melukai Hati Kudus Yesus dan hatikudusmu. 

Engkau memperkenalkan diri sebagai "Bunda para pendosa yang bertobat" kepada St.Brigitta, maka ampunilah kiranya segala kurang rasa terima kasihku padamu. Ingatlah akan keluhuran Puteramu saja serta kerahiman dan kebaikan hatimu yang terpancar dengan mengabulkan permohonanku ini melalui perantaraan Puteramu.

Bunda Perawan yang penuh kebaikan serta lembut dan manis, belum pernah ada orang yang datang padamu dan memohon pertolongamu engkau biarkan begitu saja. Atas kerahiman dan kebaikanmu, aku berharap dengan sangat, agar aku dianugerahi Roh Kudus. Dan demi keluhuranmu, bersama St. Alfonsus Ligouri, rasul kerahimanmu serta pengajar devosi "Tiga Salam Maria", aku berdoa untuk menghormati kerahimanmu dan kebaikanmu.
Salam Maria ... (3X)

Bunda Maria yang baik hati, jauhkanlah aku dari dosa-dosa berat.

Doa Rosario

Banyak umat Non-Katolik dan termasuk juga sebagian umat Katolik mengira bahwa doa rosario adalah doa kepada Maria. Sesungguhnya doa rosario adalah doa kepada Tuhan Yesus, dengan meneladani intersesi (bantuan doa) Bunda Maria. Didalam doa Rosario Bunda Maria menemani didalam doa, merenungkan peristiwa kelahiran, penderitaan, dan kemuliaan Putranya.

Doa Rosario menuntuk suasana yang tenang dimana misteri kehidupan Yesus dapat direnungkan dengan sepenuh hati.

CARA BERDOA ROSARIO

1. Aku Percaya
2. Bapa Kami
3. Salam Putri Allah Bapa, Salam Maria
4. Salam, Bunda Allah Putra, Salam Maria
5. Salam, Mempelai Allah Roh Kudus, Salam Maria
6. Kemuliaan

Ikuti Jalan Salib



Tata cara Berdoa Rosario
Dalam nama Bapa…
Aku percaya… (lihat no. 1-2)
Kemuliaan kepada Bapa… (lihat no. 13)
Terpujilah… (lihat no. 20)
Bapa kami… (lihat no. 10-12)

Salam, Putri Allah Bapa. – Salam Maria…(lihat no. 14)
Salam, Bunda Allah Putra, - Salam Maria…
Salam, Mempelai Allah Roh Kudus. – Slam Maria…

Lalu menyusul “Kemuliaan” dan “Terpujilah” seperti diatas.
Kemudian pemimpin membacakan peristiwa-peristiwa dari rangkaian misteri yang dipilih (lihat di bawah). Selanjutnya menyusul Bapa kami, 10 Salam Maria, Kemuliaan, Terpujilan. Lalu menyusul peristiwa kedua dan seterusnya.

Peristiwa-peristiwa Gembira, khususnya selama Masa Adven dan Natal1. Maria menerima kabar gembira dari Malaikat Gabriel (Luk1:26-38).
2. Maria mengunjungi Elisabet, saudarinya (Luk1:39-45).
3. Yesus dilahirkan di Bethlehem (Luk2:1-7).
4. Yesus dipersembahkan dalam Bait Allah (Luk2:22-40).
5. Yesus diketemukan dalam Bait Allah (Luk2:41-52).

Peristiwa-peristiwa Sedih, khususnya selama Masa Prapaskah dan tiap hari Jumat
1. Yesus berdoa kepada Bapa-Nya di surga dalam sakratul maut (Luk22:39-46).
2. Yesus didera (Yoh19:1).
3. Yesus dimahkotai duri (Yoh19:2-3).
4. Yesus memanggul salib-Nya (ke Gunung Kalvari) (Luk22:26-32).
5. Yesus wafat di salib (Luk23:44-49).

Peristiwa-peristiwa Mulia, khususnya selama Masa Paskah dan tiap hari Minggu1. Yesus bangkit dari kematian (Luk21:1-12).
2. Yesus naik ke surga (Luk24:50-53).
3. Roh Kudus turun atas para Rasul (Kis2:1-13).
4. Maria diangkat ke surga (1Kor15:23; DS 3903).
5. Maria dimahkotai di surga (Why12:1, DS 3913-3917).

Peristiwa-peristiwa Terang.1. Yesus di baptis di sungai Yordan (Mat3:16-17)
2. Yesus menyatakan diri-Nya dalam pesta pernikahan di Kana (
Yoh2:11)
3. Yesus memberitakan Kerajaan Allah dan menyerukan pertobatan (
Mat4:17-23)
4. Yesus menampakan kemuliaan-Nya (
Mat17:2-5)
5. Yesus menetapkan Ekaristi (
Mrk14:22-24)

12. Dari Ps no 274
Didakhe 1X : 2-4
D/L Bapa, Engkau kami puji karena santapan kudus, yang Kau bagikan kepada kami dengan pengantaraan Yesus, Putra-Mu.
U Terpujilah Engkau selama-lamanya
D/L Bapa, Engkau kami puji karena kebenaran dan hidup, yang Kausampaikan kepada kami denganpengantaraan Yesus, Putra-Mu.
U Terpujilah Engkau selama-lamanya
D/L Bapa, sebagaimana roti yang kami bagi-bagi ini telah dikumpulkan dari banyak butir gandum yang tersebar di lereng-lereng gunung, sudilah Engkau menghimpun pula umat-Mu dari segala ujung bumi, dan mempersatukan mereka dalam kerajaan-Mu dengan perantaraan penyelamat kami, Yesus Kristus
U Terpujilah Engkau selama-lamanya
Catatan 1:
Setiap kali renungan-renungan itu:
a. Didahului doa Bapa Kami, doa yg diajarkan oleh Yesus sendiri. Diucapkan dengan khidmat
b. Disertai doa Salam Maria, yang merupakan salam dari malaikat Gabriel dan salam dari Elisabet. Diucapkan dengan tenang sebagai pujian, dan diulang 10 kali seperti doa litani.
c. Diakhiri doa Kemuliaan , sebagai permuliaan dan penyembahan kepada Allah Tritunggal.
Catatan 2:
a. Peristiwa-persitiwa Gembira : Pada hari Senin dan Sabtu; pada masa Adven dan Natal.
b.Peristiwa-peristiwa Sedih : Pada hari Selasa dan Jumat; pada masa Puasa.
c.Persitiwa-peristiwa Mulia : Pada hari Rabu, Sabtu dan Minggu; pada masa Paska.
d. Peristiwa-peristiwa Terang : Pada hari Kamis.

ads1

Feature